Sabtu, 15 September 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA SEBAGAI SARANA UNTUK MENGENAL TUHAN




Pada kuliah filsafat kali ini seperti biasa diawali dengan berdoa. Dengan berdoa kita mengharap petunjuk dari Allah agar dibukakan pikiran untuk memahami apa yang akan kita pelajari. Diharapkan memasuki pertemuan kelima ini kami mahasiswa menjadi lebih memahami apa dan bagaimana itu filsafat, siapa tokoh-tokohnya dan apa saja aliran-aliran dalam filsafat. Filsafat tidak Membatasi pikiran manusia bahkan memungkinkan untuk mengembangkan ide-ide dan ilmu pengetahuan. Bila pikiran manusia terbatasi maka itulah batasan ilmu yang dimilikinya.
            Seorang guru yang baik harus mengembangkan ide-ide dan metode pembelajaran yang baik untuk membuat siswa termotivasi dan semangat untuk belajar. Dengan Siswa yang semangat belajar dan termotivasi berarti ia telah berpikir dan menggunakan potensi yang dimilikinya. Siswa yang berpikir dan aktif di kelas menunjukkan bahwa dirinya ada dan menunjukkan eksistensinya. Sebaliknya jika guru tidak mampu membuat siswanya berpikir berarti guru tersebut tidak sopan santun terhadap siswa dan membuat siswa menjadi ‘tidak ada’.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah dikenal dua filsafat, yaitu filsafat pendidikan matematika dan filsafat pendidikan matematika. Filsafat pendidikan matematika berarti mempelajari apa dan yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika. Termasuk di dalamnya tentang bagaimana matematika sekolah dan bagaimana cara mengajarkan kepada anak didik kita. Inilah yang bagi saya khususnya dan bagi guru-guru di Indonesih untuk lebih mendalami dan mempelajari demi  kepentingan dan kebaikan anak didik kita di skolah. Sementara filsafat matematika mempelajari yang ada dan apa yang mungkin ada dalam matematika. Hal ini dipelajari untuk matematika advance tapi tidak menutup kemungkinan bagi guru untuk mempelajrinya.
Seorang filosof Yunani kuno yang sudah sangat kita kenal, Pythagoras berpendapat bahwa matematika adalah agama. Ia juga berpendapat bilangan mengatur alam. Hal yang demikian ia katakan karena tidak ada tuhan dalam dirinya. Dan bahkan pada zamannya mungkin ia belum mengenal tuhan. Berlawanan dengan pemikiran Pythagoras, Rene Descartes (1596-1650) yang menganut aliran “Skeptisism” dengan pemikirannya yang terkenal “Cogito Ergosum” (aku berpikir maka aku ada) berpendapat bahwa Tuhan itu ada walupun dengan pencarian yang panjang. Dalam perjalanan filosofisnya ia berusaha membangun sebuah dasar pijkan bagi pemikiran filsafatnya. Dia membuat keputusan untuk membuat dirinya meragukan segala sesuatu yang dapat diragukannya, termasuk kebenaran dari agama itu sendiri, ini bertujuan agar kita mendapatkan kebenaran yang sehakiki mungkin, yakni kebenaran yang tak dapat diragukan lagi.
Dimulai dengan skeptisisme terhadap apa yang diterima oleh indera manusia. Konon katanya dalam buku yang saya baca, ia pernah berungkap “dapatkah saya meragukan, bahwa saya sedang duduk disini dekat api dengan baju panjang?, ya, karena kadang-kadang saya bermimpi bahwa saya berada di sini, padahal senyatanya saya sedang dalam keadaan telanjang di tempat tidur. Akan tetapi tetap saja ada sesuatu hal yang Descartes sendiri tidak bisa meragukannya, yaitu “pikiran”. Ia berungkap “ketika saya ingin menganggap sesuatu itu salah, pastilah ada diri saya yang berpikir, dan ungkapan kebenaran; Aku Berpikir maka Aku Ada ( cagito ergo sum ), saya pikir saya dapat menerimanya tanpa keberatan, sebagai prinsif kebenaran filsafat yang saya cari.
Dari pendapat Descartes di atas bisa kita katakan bahwa Tuhan itu konsisten absolute sedang manusia adalah konsisten relative. Diharapkan dengan mempelajari filsafat kita jadi mengenal siap diri kita dan siap tuhan kita, bukan sebaliknya. Sebaik-baik orang belajar adalah yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Seorang guru yang mengetahui filsafat pendidikan matematika akan mendasarkan kegiatannya semata – mata untuk ibadah karena Allah SWT.


REFLEKSI KULIAH FILSAFAT
PERTEMUAN V, 10 SEPTEMBER 2012
DIDIK KURNIAWAN, S.Pd
12709259022
PPS UNY
                                         




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar